Rabu, 22 Januari 2014

Pesut

sumber gambar : 8u8ilawati.blogspot.com


Tidak seperti hewan mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut (Orcaella brevirostris) hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.




Dahulu pesut pernah ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka, kecuali di Sungai Mahakam. Di tempat ini habitat Pesut Mahakam dapat ditemukan ratusan kilometer dari lautan yakni di wilayah kecamatan Kota Bangun, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang ini dapat dijumpai di perairan Sungai Mahakam, danau Jempang (15.000 Ha), danau Semayang (13.000 Ha) dan danau Melintang (11.000 Ha).

Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (sepperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat di bagian bawah (tidak ada pola khas). Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar, tidah memiliki paruh. Sirip dada lebar dan membundar.

Pesut bergerak dalam kawanan kecil. walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan pakar dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik layaknya yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.

Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu lintas perairan Sungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam.

Ancaman kepunahan pseut dari Sungai Mahakam di Kalimantan Timur semakin nyata. Dengan populasi sekitar 70 ekor dan angka kematian empat ekor pertahun, pesut mendesak diselamatkan dan dilestarikan. Hasil penelitian RASI menyatakan pesut kerap dijumpai di Kutai Barat, Kecamatan Muara Pahu dan Kutai Kartanegara, Kecamatan Muara Kaman. Namun, gangguan lalu lintas kapal dan aktivitas manusia cukup tinggi di kawasan tersebut, sehingga pesut sulit berkembang biaak.

pesut berarti penting bagi masyarakat Muara Pahu dan Muara Kaman. Satwa tersebut membantu nelayan mencari tempat yang banyak ikan dan membantu masyarakat memahami fenomena banjir. Masyarakat memperkirakan Sungai Mahakam akan maluap jika tidak melihat pesut-pesut lagi. Penyebab dominan kematian pesut karena tersangkut jaring nelayan. Pesut juga mati karena tertabrak kapal. Pesut sulit berkembang biak karena bisingnya suara kapal-kapal terutama kapal penarik ponton pengangkut batubara.

sumber : Zullhendri, Ferli. 2008. Hewan-Hewan Langka di Indonesia. Jakarta : PT Kiara Alifiani.

0 komentar:

Posting Komentar